FENOMENA KESURUPAN

Kesurupan jin, yang dalam bahasa arab disebut "As Shar'u" merupakan proses menyusupnya bangsa jin ke tubuh manusia yang menganggu mekanisme tubuh yang menimbulkan ketimpangan akal manusia, sehingga tidak dapat menyadari apa yang diucapkan antara apa yang diucapkan dan dilakukan dan tidak dapat pula menghubungkan dan mengingat antara apa yang telah diucapkan dan dilakukan dengan apa yang diucapkan dan dilakukannya. Orang yang terkena kesurupan jin mengalami kehilangan ingatan sementara akibat ketimpangan pada saraf otak. Ketimpangan saraf otak akan diringi dengan ketimpangan pada gerakan-gerakan orang yang kesurupan. Jkadi, fenomena kesurupan jin adalah kekacauan dalam ucapan, perbuatan dan fikiran yang disebabkan jin menganggu mekanisme tubuh dan sistem syaraf tubuh.

Walaupun telah banyak kasus kesurupan jin dalam masyarakat. Sebagian masyarakat menolak keabsahan kesurupan jin secara medis dan agama. Mereka tidak menerima bahwa jin itu dapat masuk ke dalam tubuh manusia, serta menpengaruhinya. Mereka beralasan bahwa bahwa bangsa jin itu nariyyun "tercipta dari api". Dan tabeat mereka tidak sejalan dengan tabiat manusia yang basah dan dingin karena tercipta dari tanah. Dan menurut mereka, jin itu menempati satu bagian tempat di udara sehingga sukar bagi mereka untuk masuk ke dalam jasad manusia.

Sebagian mereka yang berpikir rasio dan ilmiah beralasan "kesurupan jin" merupakan penyakit psikis yang disebabkan stress dan depresi yang mengakibatkan keracauan berpikir. Dan penyakit syaraf yang disebabkan kekacauan signal-signal yang di input dan output otak.

Sebagian kalangan medis menklaim kesurupan jin sebagai skizofrenia, artinya seringkali orang yang terganggu jin, baik karena sihir, kesurupan dan kerasukan jin, hanya akibat sakit jiwa.

Skizofrenia sendiri merupakan penyakit gangguan jiwa yang bertaraf berat danm termasuk salah satu dari 70 macam gangguan jiwa yang ada di indonesia. Di dunia medis terdapat lebih dari 300 gangguan jiwa. Skizofrenia berasal dari kata shizo berarti jiwa dan dhren yang berarti jiwa. Kalau digabung, skizoprenia berarti jiwa yang terbelah atau split of personality, karena penyakit ini memang menyebabkan penderita seolah-olah punya jiwa yang lain.

Pendapat mereka itu di tolak oleh yang menetapkan kemungkinan jin masuk ke jasad manusia dan menganggu mekanisme tubuh dan sistem syaraf. Mereka berpendapat jin itu dapat melepaskan diri dari tabiatnya berasal dari api, lalu berubah menjadi "asap yang halus" yang masuk ke dalam tubuh manusia menyatu bersama pori-pori kulit. Sebagaimana halnya manusia pun lepas dari tanah sebagai asal kejadiannya dan berupa menjadi sosok tubuh yang sempurna. Sehingga, sebagaimana ruh dapat masuk ke tubuh manusia, air dapat masuk ke pohon, dan makanan dan minuman masuk ke tubuh manusia. Jin melepaskan diri dari tabiatnya yang panas dan masuk ke tubuh manusia yang tabiatnya dingin.

Fakta jin diciptakan dari api memiliki landasan kuat mengenai kesurupan jin pada manusia. Jin diciptakan dari 2 jenis nyala api, yaitu maarij min-nar (QS:ar-Rahman:15) dan naaris-samuum (QS:al-Hijr:27). As-samuun menurut kamus bahasa arab al-Mu'jam al-Wasid berarti api yang sangat panas, tidak berasap dan tidak terlihat oleh mata; dalam kehidupan sehari-hari, api itu kita namakan sebagai aliran listrik (strum). Adapun makna al-maarij adalah sesuatu yang terbentuk dari inti api (al-lahab) yang sangat panas dan dapat dilihat dengan mata; dalam kehidupan kita, api ini dinamakan sebagai nyala api. Jadi jin tercipta dari 2 jenis api yaitu as-samuun yang berarti aliran listrik dan al-maarij yang berarti bara api atau nyala api.

Jin mempunyai kemanpuan untuk masuk ke pembuluh darah (yajri'maj'raddam). Kemanpuan ini seperti sifat strum yang dapat mengalir ke tubuh kematian. Kemanpuan jin selanjutnya adalah dapat membisik-bisik, memanas-manasi dan membakar hati manusia (yuwaswisu Fi shuduur) supaya manusia menuruti hawa nafsunya. Jin menyusup melalui sistem peredaran darah untuk menganggu mekanisme tubuh dan jin menguasai frenkwensi gelombang otak yang menpengaruhi sistem syaraf untuk menguasai pikiran,emosi dan gerakan.

Hal itu, tidak bertentangan dengan hadist-hadist yang mengisyaratkan adanya jin yang menyusup ke badan manusia dan menganggunya, antara lain, Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

"sesungguhnya syaitan (jin) itu berjalan pada peredaran darah manusia "
(HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik r.a)

Imam Bukhari dan Imam muslim meriwayatkan hadist dari ummu Al-Mu'minin, Shafiyyah binti Hay r.a. dalam hadist tentang i'tikaf yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Beliau SAW bersabda;

"sesungguhnya syaitan jin jahat itu berjalan pada anak Adam lewat peredaran darah"

sebagian ulama berpendapat dengan hadist-hadis itu bahwa jin bisa menembus ke dalam diri manusia dan manimbulkan kesurupan. Ibnu Hajar al-Hatsami di dalam kitab al-Fatawa al Haditsiyah, setelah menyebutkan hadist-hadist itu berkata: hadist itu membantah orang yang menolak masuknya jin ke dalam tubuh manusia, seperti kaum Mu'tazilah.

Jin yang masuk ke dalam pembuluh darah manusia, jin langsung menuju otak dan melalui otak jin bisa menpengaruhi bagian mana saja diantara anggota tubuh manusia dari sentralnya di otak. Kajian-kajian medis membuktikan bahwa para penderita kesurupan jin memiliki gelombang yang sangat halus dan aneh yang bersemayam di otak. Banyak jin yang senang menetap di otak.

Muhammad al-Hamid berkata: jika jin berjasad halus, maka secara akal ataupun agama Islam tidak mustahil bisa masuk ke tubuh manusia, karena yang halus bisa masuk ke dalam yang tebal, seperti udara bisa masuk ke tubuh kita, atau api bisa merasuk di dalam bara, atau listrik mengalir dikabel, bahkan seperti air di dalam tanar, pasir dan pakaian, padahal dia tidak sehalus udara dan listrik.

Al-Qadhi Abdul Jabbar al-Hamadzani berkata: "jika benar kesimpulan kami bahwa jin berjasad halus seperti udara, maka tidak mustahil baginya untuk masuk ke tubuh manusia sebagaimana udara dan nafas keluar masuk ke tubuh manusia. Hal ini tidak mengakibatkan bertumpuknya beberapa subtansi dalam satu wadah karena hal tersebut tidak akan ketemu kecuali dengan cara beriringan, bukan dengan cara menyatu. Ia masuk ke tubuh manusia seperti uang masuk ke dalam amplop.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata "eksistensi jin dinyatakan oleh Al Qur'an, Al Hadist dan kesepakatan para ulama salaf dari ummat Islam. Demikian pula masuknya jin ke dalam tubuh manusia. Ia adalah hal yang bisa disaksikan dan dirasakan bagi orang yang mentadaburkannya. Jin bisa masuk ke dalam jasad orang yang kesurupan lalu orang tersebut berbicara dengan pembicaraan yang tidak diketahui dan tidak disadarinya. Bahkan dipukul dengan pukulan yang sangat keras pun tidak dirasakannya.

Ibnu Qayyim berkata; kesurupan ada dua: kesurupan karena jin-jin jahat dan rendah atau kesurupan karena tabiat-tabiat yang jelek. Hal ini diperkuat Ibnu Hazm berkata: benar bahwa jin bisa masuk ke dalam jasad manusia sebagaimana dipertegas Al Qur'an dan Al Hadist, lalu membangkitkan tabiat-tabiatnya yang hitam (sifat-sifat jahat) dan asap yang naik ke otak sebagaimana dikatakan oleh setiap orang kesurupan, lalu pada saat itu Allah menjadikan kesurupan sebagaimana kita saksikan. Itulah nash Al Qur'an dan kenyataan yang ada.

Ibnu Mas'ud, ia berkata: apabila memulai shalat Rasulullah Muhammad SAW membaca: "ya Allah, aku berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk dari penyakit gila yang ditimbulkannya, dari tiupannya dan dari syairnya. Nabi Muhammad SAW bersabda: hamazihi ialah kesurupan, nafatsihi ialah syair dan nafakhihi ialah kesombongan (diriwayatkan oleh al-Hakim dan dishahihkan serta disepakati oleh adz-Dzahabi, dan diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, Turmudzi dan Nasa'i dari hadist Abu Sa'id al Khudri).

Al-Maututu ialah jenis penyakit gila sementara yang disebabkan kesurupan jin yang menimpa manusia, jika telah sadar maka kembali akalnya. Ibnu katsir berkata: Hamazuhu ialah al-Mautatu yakni cekikan yang berupa kesurupan.

Abdul Karim Naufun berkata: hadist ini membuktikan adanya penyakit gila yang ditimbulkan oleh kesurupan jin pada manusia, karena di dalam hadist ini Rasulullah Muhammad SAW berlindung dari al-Hamaz, sedangkan artinya al-Hamaz ialah al-maututa yakni penyakit gila yang disebabkan kesurupan jin.

Para ahli medis terutama psikolog dan psikiatri menyakini penyebab kesurupan jin dari segi kejiwaan yang labil akibat stres dan depresi. Stres dan depresi menimbulkan emosi labil dan kurangnya pengendalian perasaan yang mengakibatkan si penderita lebih dikendalikan emosi dan perasaan tanpa rasionalisasi dari otak (IQ & EQ). Dampaknya kekacauan gelombang otak dan susunan memori otak yang bisa "koslet" menjurus gila dan disusupi jin untuk menguasai otak.

Para ahli spiritual dan tokoh agama berpendapat kesurupan jin diakibatkan si jin jatuh hati, senang dan nyama kepada manusia, kezhalimanan manusia terhadap jin baik disengaja atau tidak disengaja. Kezalimaman jin terhadap manusia seperti menganggu tanpa sebab, dan perjanjian jin dan manusia seperti sihir dan ilmu kesaktian.

Sedangkan cara pencegahan kesurupan jin hanya dengan meningkat keimanan dan ketakwaan kepada Allah Azza Wa Jalla melalui beribadah sesuai tuntunan Rasulullah Muhammad SAW. Kita harus menjaga kebersihan dan kesegaran pikiran dan hati supaya selalu tenang, stabil dan rasio.